Kalosara Adat Pemersatu Masyarakat Kendari

kalosaraDalam adat lokal masyarakat asli kendari yang bersuku tolaki dan mekongga peran adat dalam kehidupan sehari-hari sangat kental, hal ini dapat disaksikan dengan penggunaan perangkat-perangkat adat (kalosara) dalam berbagai kegiatan sosial masyarakat seperti dalam prosesi pernikahan, penyelesaian sengketa atau perdamaian dan berbagai persoalan lain dalam masyarakat.

KALOSARA Bagi Masyarakat Tolaki, kalo merupakan suatu pedoman yang mempengaruhi kehidupan masyarakat. Kalo pada tingkat nilai budaya merupakan sistem norma adat yang berfungsi mewujudkan ide-ide yang mengkonsepsikan hal-hal yang paling bernilai dalam kehidupan masyarakat. Kalo pada tingkat aturan khusus mengatur aktivitas-aktivitas yang amat jelas dan terbatas ruang lingkupnya dalam kehidupan masyarakat. Dalam konsep kalo yang mengatur aktivitas tersebut dikenal meraou, yaitu aturan khusus yang mengatur setiap individu dalam berbahasa yang menunjukan sopan santun (bertata krama); Atora, yakni aturan khusus dalam komunikasi sosial.

Kalo atau Kalosara adalah sebuah benda yang berbentuk lingkaran yang terbuat dari tiga utas rotan yang kemudian dililit ke arah kiri berlawanan dengan arah jarum jam. Ujung lilitannya kemudian disimpul atau diikat, dimana dua ujung dari rotan tersebut tersembunyi dalam simpulnya, sedangkan ujung rotan yang satunya dibiarkan mencuat keluar.

Kalosara adalah lambang pemersatu dan perdamaian yang sangat sakral dalam kehidupan masyarakat Suku Tolaki. Secara fisik, Kalosara ini diwujudkan dengan seutas rotan berbentuk lingkaran yang kedua ujungnya disimpul lalu diletakkan di atas selembar anyaman kain berbentuk bujur sangkar. Tradisi yang tetap lestari ini biasa digelar dalam menyelesaikan suatu pertikaian atau perselisihan dalam kehidupan masyarakat Suku Tolaki yang saat ini tersebar di Wilayah Kabupaten Konawe, Kabupaten Konawe Selatan, Kabupaten Konawe Utara dan Kota Kendari.

Kalo/Kalosaratidak dapat dipisahkan dengan kehidupan sehari-hari orang Tolaki. Kalo/Kalosara sebagai simbol persatuan-kesatuan dan simbol hukum adat selalu hadir dalam berbagai peristiwa penting dalam kehidupan orang Tolaki. Misalnya dalam penyelesaian berbagai konflik/sengketa baik dalam skala besar (misalnya sengketa yang melibatkan kampung dengan kampung) maupun dalam skala kecil (misalnya sengketa yang melibatkan individu dengan individu), dalam pengurusan perkawinan, dalam menyambut tamu, dalam menyampaikan undangan lisan, menyampaikan berita duka, dan berbagai peristiwa-peristiwa lainnya.

Dengan terus melestarikan adat dan kearifan lokal masyarakat ini maka perdamaian dan kedamaian dapat terus terjaga dan terpelihara di tanah sulawesi tenggara khususnya Kendari #DamaiDalamSumpahPemuda